Kejawen

Tulisan
ini hasil dari browsing dari www.jawapalace.com
bukan hasil tulisan saya sendiri
saya tidak punya hak karya atas tulisan ini
Pengeran
Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum
semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya
menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur,
karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas ijin serta
kehendakNYA
Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan
penghidupan, keseimbangan dan kestabilan,yang dapat juga memberi kehidupan dan
penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa
disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti,yaitu pandangan yang beranggapan bahwa
kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan
pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula
terhadap Gusti Allah.
Tan samar pamoring Suksma
Sinuksmaya winahya ing ngasepi
sinimpen ing telenging kalbu
pambukaning
warana
tarlen saking liyep layaping aluyup
pindha pesating sumpena
sumusuping rasa jati
Upaya manusia untuk memahami keberadaannya diantara semua makhluk yang tergelar
di jagad raya, yang notabene adalah makhluk, telah membawa manusia dalam
perjalanan pengembaraan yang tak pernah berhenti. Pertanyaan tentang dari mana
dan mau kemana (sangkan paraning dumadi) perjalanan semua makhluk terus
menggelinding dari jaman ke jaman sejak adanya " ada ". Pertanyaan
yang amat sederhana tetapi substansiil tersebut, ternyata mendapatkan jawaban
yang justru merupakan pertanyaan-pertanyaan baru dan sangat beragam, bergantung
dari kualitas sang penanya.
Perkembangan kecerdasan dan kesadaran manusia telah membentuk budaya pencarian
yang tiada henti. Apalagi setelah muncul kesadaran religius yang mempertanyakan
" apa atau siapa yang membuat ada " semakin menggiring manusia ke
dalam petualangan meraba-raba di kegelapan rimba raya pengetahuan.
Di dalam kegelapan itulah benturan demi benturan akibat perbedaan pemahaman
terjadi. Benturan paling purba berawal dari kisah Adam dan Hawa yang
melemparkan mereka dari surga. Benturan terkadang teramat dahsyat sehingga
" perlu " genangan darah dan air mata, yang dipelopori oleh Habil dan
Qabil. Kesemuanya bermuara pada kata sakti yang bernama " kebenaran "
yang sungguh sangat abstrak dan absurd. Tetapi bukankah hidup dan kehidupan ini
abstrak dan absurd ? sehingga tak terjabarkan oleh akal-pikir yang paling
canggih sekalipun.
Ketika akal-pikir tak lagi mampu menjawab pertanyaan diatas, manusia mulai
menggali jawaban dari " rasa " sampai akhirnya manusia merasa
seolah-olah telah menemukan apa yang dicari. Tetapi ketika pengembaraan rasa
tersebut sampai pada titik simpang, dimana di satu sisi muncul kebutuhan untuk
melembagakan hasil " temuan rasa " tersebut dan di sisi lain menolak
pelembagaan, kembali terjadi benturan-benturan yang sesungguhnya sangat tidak
perlu terjadi. Sesuatu yang tidak akan pernah diketahui, baik dengan akal-pikir
dan rasa, bahkan intuisi sekalipun. Sebab " dia " adalah Sang Maha
Gaib. Rumusan apapun tentang " dia " seperti apa yang telah dilakukan
oleh manusia pasti akan menemui kegagalan. Karena " dia " tidak
pernah merumuskan " dirinya " secara kongkrit, kecuali dalam bentuk
simbol-simbol dan lambang-lambang yang metaforik.
Perjalanan panjang manusia yang menempuh jarak jutaan tahun untuk mendapatkan
jawaban pasti tentang " dia " menjadi amat bervariasi. Tetapi
kepastian itu sendiri tidak pernah dijumpai. Sehingga sebagian manusia menjadi putus
asa, karena perjalanan pencariannya tak ubahnya seperti tragedi Syshipus,
sebuah perjalanan kehilangan.
Sementara untuk sebagian manusia lainnya, semangat pencariannya justru semakin
menggebu. Mereka tidak pernah patah, karena mereka tidak terpukau oleh hasil
akhir. Telah muncul kesadaran baru pada mereka, bahwa yang terpenting adalah
proses pencarian itu sendiri. Bertemu atau tidak bukan lagi menjadi pangkal
kerisauan, karena mereka menyadari, bahwa keputusan tidak berada di tangan
manusia.
Nah mereka inilah para pejalan spiritual, sang pencari sejati yang selalu haus
pada pengalaman empiris di belantara pengetahuan tentang hal-hal yang abstrak,
absurd dan gaib. Dan mereka adalah kita.
Syarat utama bagi para pejalan spiritual adalah kebersediaannya dan
kemampuannya menghilangkan atau menyimpan untuk sementara pemahaman dogmatis
yang telah dimilikinya, dan mempersiapkan diri dengan keterbukaan hati dan
pikiran untuk merambah jagad ilmu pengetahuan ( kawruh ) non-ragawi. Ilmu yang
gawat dan wingit, karena sifatnya sangat mempribadi dan tidak bisa diseragamkan
dengan idiom-idiom yang ada, dimana idiom-idiom itu hanya bisa dipergunakan
sebagai rambu penunjuk yang kebenarannya juga sangat relative.
Pengalaman spiritual adalah pengalaman yang sangat unik dan sangat individual
sifatnya, sehingga kaidah-kaidah yang paling dogmatispun tak akan mampu
memberikan hasil yang sama bagi individu yang berbeda. Perjalanan spiritual
adalah proses panning upaya manusia untuk pencapaian tataran-kahanan ( strata,
maqom ) pembebasan, yaitu kemerdekaan untuk menjadi merdeka ( freedom to be
free ) dari segala bentuk keterikatan dan kemelekatan serta kepemilikan yang
membelenggu, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, seprti dijalani oleh
para penuntun spiritual dimasa lampau.
Jika persyaratan diatas sudah disepakati, barulah terasa ada perlunya
perjalanan wisata spiritual yang baru saja kita lakukan. Jika terjadi
pengalaman mistis bagi satu atau beberapa orang, harus disikapi sebagai
pengalaman yang bersifat " sangat individual " yang tidak bisa
diseragamkan.
Yang lama, kita pahami, Yang kini kita mengerti, Kedepan kita sikapi
KAUTAMANING LAKU
1. Wong eling ing ngelmu sarak dalil sinung kamurahaning Pangeran.
2. Wong amrih rahayuning sesaminira, sinung ayating Pangeran.
3. Angrawuhana ngelmu gaib, nanging aja tingal ngelmu sarak, iku paraboting
urip kang utama.
4. Aja kurang pamariksanira lan den agung pangapunira.
5. Agawe kabecikan marang sesaminira tumitah, agawea sukaning manahe sesamaning
jalma.
6. Aja duwe rumangsa bener sarta becik, rumangsa ala sarta luput, den agung,
panalangsanira ing Pangeran Kang Maha Mulya, lamun sira ngrasa bener lawan
becik, ginantungan bebenduning Pangeran.
7. Angenakena sarira, angayem-ayema nalarira, aja anggrangsang samubarang kang
sinedya, den prayitna barang karya.
8. Elinga marang Kang Murbeng Jagad, aja pegat rina lan wengi.
9. Atapaa geniara, tegese den teguh yen krungu ujar ala.
10. Atapaa banyuara, tegese ngeli, basa ngeli iku nurut saujaring liyan, datan
nyulayani.
11. Tapa ngluwat, tegese mendhem atine aja ngatonake kabecikane dhewe.
12. Aprang Sabilillah, tegese prang sabil iku, sajroning jajanira priyangga ana
prang Bratayudha, prang ati ala lan ati becik
http://www.jawapalace.org
sing sapa reka arsa anglakoni
amutiha lawan amawasa
patangpuluh dina wae
lan tangi wektu subuh lan den sabar sukur ing ati
Isya ALLAH tinekan sak karsaniku,
nyawabi nakrakyatira.
saking sawab ing ilmu pangiket mami,
duk uneng Kalijaga
Mitologi
Pasaran dan Hari
Sejak dahulu orang Jawa telah mempunyai “perhitungan“( petung Jawa ) tentang
pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Perhitungan itu meliputi baik
buruknya pasaran, hari, bulan dan lain sebagainya. Khusus tentang hari dan
pasaran terdapat di dalam mitologi sebagai berikut :
1.Batara Surya ( Dewa Matahari ) turun ke bumi menjelma menjadi Brahmana Raddhi
di gunung tasik. Ia menggubah hitungan yang disebut Pancawara ( lima bilangan )
yang sekarang disebut Pasaran yakni : Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon nama
kunonya : Manis, Pethak ( an ) Abrit ( an ) Jene ( an ) Cemeng ( an ), kasih. (
Ranggowarsito R.NG.I : 228 )
2.Kemudian Brahmana Raddhi diboyong dijadikan penasehat Prabu Selacala di
Gilingwesi sang Brahmana membuat sesaji, yakni sajian untuk dewa-dewa selama 7
hari berturut-turut dan tiap kali habis sesaji, hari itu diberinya nama sebagai
berikut
a. Sesaji Emas, yang dipuja Matahari. Hari itu diberinya nama Radite, nama
sekarang : Ahad.
b. Sesaji Perak, yang dipuja bulan. Hari itu diberinya nama : Soma, nama
sekarang : Senen.
c. Sesaji Gangsa ( bahan membuat gamelan, perunggu ) yang dipuja api, hari itu
diberinya nama : Anggara, nama sekarang Selasa.
d. Sesaji Besi, yang dipuja bumi, hari itu diberinya nama : buda, nama sekarang
: Rebo.
e. Sesaji Perunggu, yang dipuja petir. Hari itu diberinya nama : Respati, nama
sekarang : Kemis.
f. Sesaji Tembaga, yang dipuja Air. Hari itu diberinya nama : Sukra, nama
sekarang : Jumat
g. Sesaji Timah, yang dipuja Angin. Hari itu diberinya nama : Saniscara disebut
pula : Tumpak, nama sekarang : Sabtu.
Nama sekarang hari-hari tersebut adalah nama hari-hari dalam Kalender Sultan
Agung, yang berasal dari kata-kata Arab ( Akhad, Isnain, Tslasa, Arba’a,
Khamis, Jum’at, Sabt ) nama-nama sekarang itu dipakai sejak pergantian Kalender
Jawa – Asli yang disebut Saka menjadi kalender Jawa / Sultan Agung yang nama
ilmiahnya Anno Javanico ( AJ ). Pergantian kalender itu mulai 1 sura tahun Alip
1555 yang jatuh pada 1 Muharam 1042 = Kalender masehi 8 Juli 1633. Itu hasil
perpaduan agama Islam dan kebudayaan Jawa.
Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun saka yang waktu itu sampai tahun
1554, sejak itu tahun saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih
digunakan di Bali. Rangkaian kalender saka seperti : Nawawara ( hitungan 9 atau
pedewaan ) Paringkelan ( kelemahan makhluk ) Wuku ( 30 macam a’7 hati, satu
siklus 210 hari ) dll.
Dipadukan dengan kalender Sultan Agung ( AJ ) tersebut, keseluruhan merupakan
petungan ( perhitungan ) Jawa yang dicatat dalam Primbon. Dikalangan suku Jawa,
sekalipun di lingkungan kaum terpelajar, tidak sedikit yang hingga kini masih
menggunakannya ( baca : mempercayai ) primbon.
Sadulur Papat Kalima Pancer
Hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu menurut kepercayaan Jawa adalah
sejalan dengan ajaran “ Sedulur papat, kalima pancer “ empat saudara
sekelahiran, kelimanya pusat.
Ajaran ini mengandung pengertian bahwa badan manusia yang berupa raga, wadag,
atau jasad lahir bersama empat unsur atau roh yang berasal dari, tanah, air,
api dan udara. Empat unsur itu masing-masing mempunyai tempat di kiblat empat.
Faktor yang kelima bertempat di pusat, yakni di tengah.
Lima tempat itu adalah juga tempat lima pasaran, maka persamaan tempat pasaran
dan empat unsur dan kelimanya pusat itu adalah sebagai berikut :
1. Pasaran Legi bertempat di timur, satu tempat dengan unsur udara, memancarkan
sinar ( aura ) putih.
2. Pasaran Paing bertempat di selatan, salah satu tempat dengan unsur Api,
memancarkan sinar merah.
3. Pasaran Pon bertempat di barat, satu temapt dengan unsur air, memancarakan
sinar kuning.
4. Pasaran Wage bertempat di utara, satu tempat dengan unsur tanah, memancarkan
sinar hitam
5. Kelima di pusat atau di tengah, adalah tempat Sukma atau Jiwa, memancarkan
sinar manca warna ( bermacam-macam )
Dari ajaran sadulur papat, kalima pancer dapat diketahui betapa pentingnya
Pasaran Kliwon yang tempatnya ditengah atau pusat ( sentrum ) tengah atau pusat
itu tempat jiwa atau sukma yang memancarkan daya – perbawa atau pengaruh kepada
“ Sadulu Papat atau Empat Saudara ( unsur ) sekelahiran.
Satu peredaran “ Keblat papat kalima pancer “ itu dimulai dari timur berjalan
sesuai dengan perputaran jam dan berakhir di tengah ( pusat ) Peta dari
jalannya dapat digambarkan sebagai berikut : (bersambung)
menep ing rahsa sateleng kalbu
amatek cipta ambasuh sukma
sumunaring raga ambudidaya
Nora iguhing palena pikir
imaningsun anuju dhat luhur
Nembah asaling muasal
oncat hawa lereming asepi
Kronik Orang Jawa
Orang Jawa yang tradisional tidak dapat memisahkan mitos dalam kehidupan mereka
,oleh sebab itu, kita telaah dan akan coba menguraikan tentang orang jawa dan
latar belakang yang ikut mewarnai pemikiran mereka dalam menafsirkan kehidupan
ini.
Orang Jawa
Yang dimaksud orang Jawa oleh Magnis-Suseno adalah orang yang bahasa ibunya bahasa
Jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah da timur pulau Jawa.
Berdasarkan golongan sosial, menurut sosiolog Koentjaraningrat, orang Jawa
diklasifikasi menjadi 2 (dua) yaitu:
1. Wong cilik (orang kecil) terdiri dari petani dan mereka yang berpendapatan
rendah.
2. Kaum Priyayi terdiri dari pegawai dan orang-orang intelektual
3. Kaum Ningrat gaya hidupnya tidak jauh dari kaum priyayi
Selain dibedakan golongan sosial, orang Jawa juga dibedakan atas dasar
keagamaan dalam dua kelompok yaitu:
1. Jawa Kejawen yang sering disebut abangan yang dalam kesadaran dan cara
hidupnya ditentukan oleh tradisi Jawa pra-Islam. Kaum priyayi tradisional
hampir seluruhnya dianggap Jawa Kejawen, walaupun mereka secara resmi mengaku
Islam
2. Santri yang memahami dirinya sebagai Islam atau orientasinya yang kuat
terhadap agama Islam dan berusaha untuk hidup menurut ajaran Islam
Alam pikiran dan pandangan hidup orang Jawa
Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala
kehidupan karena sebelumnya semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama
kali ada. Pusat yang dimakusd disini dalam pengertian ini adalah yang dapat
memebrikan penghidupan, kesimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga memberi
kehidupan dan penghubung dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian
biasa disebut Kawula lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa
kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan
pada kesatuan terakhir itulah manusia menyerahkan diri secara total selaku
kawula (hamba)terhadap Gustinya(SangPencipta).
Sebagian besar orang Jawa termasuk dalam golongan bukan muslim santri yaitu
yang mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir Islam dengan pandangan asli
mengenai alam kodrati dan alam adikodrati.
Niels Mulder mengatakan bahwa pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari
pengalaman hidup. Pandangan hidup adalah sebuah pengaturan mental dari
pengalaman hidup yang kemudian dapat mengembangkan suatu sikap terhadap hidup.
Ciri pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah kepada
pembentukan kesatuan numinus antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati
yang dianggap keramat. Orang Jawa bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya,
mereka hanya menjalankan saja.
Dasar kepercayaan Jawa atau Javanisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu
yang ada didunia ini pada hakekatnya adalah satu atau merupakan kesatuan hidup.
Javanisme memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam
raya. Dengan demikian kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh
dengan pengalaman-pengalaman yang religius.
Alam pikiran orang Jawa merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos
(alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos. Makrokosmos dalam pikiran orang Jawa
adalah sikap dan pandangan hidup terhadap alam semesta yang mengandung kekuatan
supranatural da penuh dengan hal-hal yang bersifat misterius. Sedangkan
mikrokosmos dalam pikiran orang Jawa adalah sikap dan pandangan hidup terhadap
dunia nyata. Tujuan utama dalam hidup adalah mencari serta menciptakan
keselarasan atau keseimbangan antara kehidupan makrokosmos dan mikrokosmos.
Dalam makrokosmos pusat alam semesta adalah Tuhan. Alam semesta memiliki
hirarki yang ditujukan dengan adanya jenjang alam kehidupan orang Jawa dan
adanya tingkatan dunia yang semakin sempurna (dunia atas-dunia manusia-dunia
bawah). Alam semesta terdiri dari empat arah utama ditambah satu pusat yaitu
Tuhan yang mempersatukan dan memberi keseimbangan.
Sikap dan pandangan tehadap dunia nyata (mikrokosmos) adalah tercermin pada
kehidupan manusia dengan lingkungannya, susunan manusia dalam masyarakat, tata
kehidupan manusia sehari-hari dan segala sesuatu yang nampak oleh mata. Dalam
mengahdapi kehidupan manusia yang baik dan benar didunia ini tergantung pada
kekuatan batin dan jiwanya.
Bagi orang Jawa, pusat di dunia ada pada raja dan karaton, Tuhan adalah pusat
makrokosmos sedangkan raja adalah perwujudan Tuhan di dunia sehingga dalam
dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan alam. Jadi raja adalah pusat
komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi mikrokosmos dari Tuhan dengan
karaton sebagai kediaman raja . karaton merupakan pusat keramat kerajaan dan
bersemayamnya raja karena raja merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang
mengalir ke daerah dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan
Kegiatan religius orang Jawa Kejawen
Menurut kamus bahasa Inggris istilah kejawen adalah Javanism, Javaneseness;
yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebudayaan Jawa yang
dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefinisikannya sebagai suatu kategori
khas. Javanisme yaitu agama besarta pandangan hidup orang. Javanisme yaitu
agama besarta pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin,
keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang
terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah
semesta alam.
Niels Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha dalam
sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar
bagi perilaku kehidupan. Sistem pemikiran Javanisme adalah lengkap pada
dirinya, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada
hakikatnya bersifat mistik dan sebagainya yang anthropologi Jawa tersendiri,
yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat yang
pada gilirannya menerangkan etika, tradisi, dan gaya Jawa. Singkatnya Javanisme
memberikan suatu alam pemikiran secara umum sebagai suatu badan pengetahuan
yang menyeluruh, yang dipergunakan untuk menafsirkan kehidupan sebagimana
adanya dan rupanya. Jadi kejawen bukanlah suatu kategori keagamaan, tetapi
menunjukkan kepada suatu etika dan gaya hidup yang diilhami oleh cara berpikir
Javanisme.
Sebagian besar dari masyarakat Jawa adalah Jawa Kejawen atau Islam abangan,
dalam hal ini mereka tidak menjalani kewajiban-kewajiban agama Islam secara
utuh misalnya tidak melakukan sembayang lima waktu, tidak ke mesjid dan ada
juga yang tidak berpuasa di saat bulan Ramadhan. Dasar pandangan mereka adalah
pendapat bahwa tatanan alam dan masyarakat sudah ditentukan dalam segala
seginya. Mereka menganggap bahwa pokok kehidupan dan status dirinya sudah
ditetapkan, nasibnya sudah ditentukan sebelumnya jadi mereka harus menaggung
kesulitanhidupnya dengan sabar. Anggapan-anggapan mereka itu berhubungan erat
dengan kepercayaan mereka pada bimbingan adikodrati dan bantuan dari roh nenek
moyang yang seperti Tuhan sehingga menimbulkan perasaan keagamaan dan rasa aman
Kejawen dapat diungkapkan dengan baik oleh mereka yang mengerti tentang rahasia
kebudayaan Jawa, dan bahwa kejawen ini sering sekali diwakili yang paling baik
oleh golongan elite priyayi lama dan keturunan-keturunannya yang menegaskan
adalah bahwa kesadaran akan budaya sendiri merupakan gejala yang tersebar luas
dikalangan orang Jawa. Kesadaran akan budaya ini sering kali menjadi sumber
kebanggaan dan identitas kultural. Orang-orang inilah yang memelihara warisan
budaya Jawa sevara mendalam sebagai kejawen.
Pemahan orang Jawa Kejawen ditentukan oleh kepercayaan mereka pada pelbagai
macam roh-roh yang tidak kelihatan yang dapat menimbulkan bahaya seperti
kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak
hati-hati. Untuk melindungi semuanya itu, orang Jawa kejawen memberi sesajen
atau caos dahar yang dipercaya dapat mengelakkan kejadian-kejadian yang tidak
diinginkan dan mempertahankan batin dalam keadaan tenang. Sesajen yang
digunakan biasanya terdiri dari nasi dan aneka makanan lain, daun-daun bunga
serta kemenyan.
Contoh kegiatan religius dalam masyarakat Jawa, khususnya orang Jawa Kejawen
adalah puasa atau siam. Orang Jawa Kejawen mempunyai kebiasaan berpuasa pada
hari-hari tertentu misalnya Senin-Kamis atau pada hari lahir, semuanya itu
merupakan asal mula dari tirakat. Dengan tirakat orang dapat menjadi lebih kuat
rohaninya dan kelak akan mendapat manfaat. Orang Jawa kejawen menganggap
bertapa adalah suatu hal yang cukup penting. Dalam kesusastraan kuno orang
Jawa, orang yang berabad-abad bertapa dianggap sebagai orang keramat karena dengan
bertapa orang dapat menjalankan kehidupan yang ketat ini dengan disiplin tinggi
serta mampu manahan hawa nafsu sehingga tujuan-tujuan yang penting dapat
tercapai. Kegiatan orang Jawa kejawen yang lainnya adalah meditasi atau semedi.
Menurut Koentjaraningrat, meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama
dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap
keramat misalnya di gunung, makam keramat, ruang yang dikeramatkan dan
sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau
menyatukan diri dengan Tuhan.
Spiritualitas Jawa
Sejak jaman awal kehidupan Jawa (masa pra Hindu-Buddha), masyarakat Jawa telah
memiliki sikap spiritual tersendiri. Telah disepakati di kalangan sejarawan
bahwa, pada jaman jawa kuno, masyarakat Jawa menganut kepercayaan
animisme-dinamisme. Yang terjadi sebenarnya adalah: masyarakat Jawa saat itu
telah memiliki kepercayaan akan adanya kekuatan yang bersifat: tak terlihat
(gaib), besar, dan menakjubkan. Mereka menaruh harapan agar mendapat
perlindungan, dan juga berharap agar tidak diganggu kekuatan gaib lain yang
jahat (roh-roh jahat) (Alisyahbana, 1977).
Hindu dan Buddha masuk ke pulau Jawa dengan membawa konsep baru tentang
kekuatan-kekuatan gaib. Kerajaan-kerajaan yang berdiri memunculkan figur
raja-raja yang dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa. Maka berkembanglah
budaya untuk patuh pada raja, karena raja diposisikan sebagai ‘imam’ yang
berperan sebagai pembawa esensi kedewataan di dunia (Simuh, 1999). Selain itu
berkembang pula sarana komunikasi langsung dengan Tuhan (Sang Pemilik
Kekuatan), yaitu dengan laku spiritual khusus seperti semedi, tapa, dan pasa
(berpuasa).
Jaman kerajaan Jawa-Islam membawa pengaruh besar pada masyarakat, dengan
dimulainya proses peralihan keyakinan dari Hindu-Buddha ke Islam. Anggapan
bahwa raja adalah ‘Imam’ dan agama ageming aji-lah yang turut menyebabkan
beralihnya agama masyarakat karena beralihnya agama raja, disamping peran aktif
para ulama masa itu. Para penyebar Islam –para wali dan guru-guru tarekat-
memperkenalkan Islam yang bercorak tasawuf. Pandangan hidup masyarakat Jawa
sebelumnya yang bersifat mistik (mysticism) dapat sejalan, untuk kemudian
mengakui Islam-tasawuf sebagai keyakinan mereka.
Spiritual Islam Jawa, yaitu dengan warna tasawuf (Islam sufi), berkembang juga
karena peran sastrawan Jawa yang telah beragama Islam. Ciri pelaksanaan tasawuf
yang menekankan pada berbagai latihan spiritual, seperti dzikir dan puasa,
berulang kali disampaikan dalam karya-karya sastra. Petikan serat Wedhatama
karya K.G.A.A. Mangku Negara IV:
Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase lawan kas, tegese kas nyamkosani. Setya
budya pangekese dur angkara (Pupuh Pucung, bait I)
Artinya:
Ngelmu (ilmu) itu hanya dapat dicapai dengan laku (mujahadah), dimulai dengan
niat yang teguh, arti kas menjadikan sentosa. Iman yang teguh untuk mengatasi
segala godaan rintangan dan kejahatan.(Mengadeg, 1975).
Di sini ngelmu lebih dekat dengan ajaran tasawuf, yaitu ilmu hakikat / ilmu
batin, karena dijalani dengan mujahadah / laku spiritual yang berat (Simuh,
1999). Dalam masyarakat Jawa, laku spiritual yang sering dilakukan adalah
dengan tapa, yang hampir selalu dibarengi dengan pasa (berpuasa).
Puasa dalam Masyarakat Jawa
Pada saat ini terdapat bermacam-macam jenis puasa dalam masyarakat Jawa. Ada
yang sejalan dengan fiqih Islam, namun banyak juga yang merupakan ajaran
guru-guru kebatinan ataupun warisan jaman Hindu-Buddha. Kata pasa (puasa)
hampir dapat dipertukarkan dengan kata tapa (bertapa), karena pelaksanaan tapa
(hampir) selalu dibarengi pasa.
Di antara macam-macam tapa / pasa, beberapa dituliskan di bawah ini:
Jenis:
Metode:
pasa di bulan pasa (ramadhan)
sama dengan puasa wajib dalam bulan ramadhan. Sebelumnya, akhir bulan ruwah
(sya’ban ) dilakukan mandi suci dengan mencuci rambut
tapa mutih (a)
hanya makan nasi selama 7 hari berturut-turut
tapa mutih (b)
berpantang makan garam, selama 3 hari atau 7 hari
tapa ngrawat
hanya makan sayur selama 7 hari 7 malam
tapa pati geni
berpantang makan makanan yang dimasak memakai api (geni) selama sehari-semalam
tapa ngebleng
tidak makan dan tidak tidur selama 3 hari 3 malam
tapa ngrame
siap berkorban /menolong siapa saja dan kapan saja
tapa ngéli
menghanyutkan diri di air (éli = hanyut)
tapa mendem
menyembunyikan diri (mendem)
tapa kungkum
menenggelamkan diri dalam air
tapa nggantung
menggantung di pohon
dan masih banyak lagi jenis lainnya seperti tapa ngidang, tapa brata, dll.
(Diadaptasi dari wawancara dengan Dr. Purwadi)
Untuk memahami makna puasa menurut budaya Jawa, perlu diingat beberapa hal.
Pertama, dalam menjalani laku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan
guru-guru kebatinan, ataupun lahir dari hasil penemuan sendiri para pelakunya.
Sedangkan untuk mengetahui sumber panduan guru-guru kebatinan, kita harus
melacak tata cara keyakinan pra Islam-Jawa. Kedua, ritual puasa ini sendiri
bernuansa tasawuf / mistik. Sehingga penjelasannya pun memakai sudut pandang
mistis dengan mengutamakan rasa dan mengesampingkan akal / nalar. Ketiga, dalam
budaya mistik Jawa terdapat etika guruisme, di mana murid melakukan taklid buta
pada Sang Guru tanpa menonjolkan kebebasan untuk bertanya. Oleh karena itu,
interpretasi laku spiritual puasa dalam budaya Jawa tidak dilakukan secara
khusus terhadap satu jenis puasa, melainkan secara umum
Sebagai penutup, dapatlah kiranya dituliskan interpretasi laku spiritual puasa
dalam budaya Jawa yaitu:
1. Puasa sebagai simbol keprihatinan dan praktek asketik.
Ciri laku spiritual tapa dan pasa adalah menikmati yang tidak enak dan tidak
menikmati yang enak, gembira dalam keprihatinan. Diharapkan setelah menjalani
laku ini, tidak akan mudah tergoda dengan daya tarik dunia dan terbentuk
pandangan spiritual yang transenden. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa pasa
bertujuan untuk penyucian batin dan mencapai kesempurnaan ruh.
2. Puasa sebagai sarana penguatan batin
Dalam hal ini pasa dan tapa merupakan bentuk latihan untuk menguatkan batin.
Batin akan menjadi kuat setelah adanya pengekangan nafsu dunia secara konsisten
dan terarah. Tujuannya adalah untuk mendapat kesaktian, mampu berkomunikasi
dengan yang gaib-gaib: Tuhan ataupun makhluk halus.
Interperetasi pertama dan kedua di atas acapkali berada dalam satu pemaknaan
saja. Hal ini karena pandangan mistik yang menjiwainya, dan berlaku umum dalam
dunia tasawuf. Dikatakan oleh Sayyid Husein Nasr, ”Jalan mistik sebagaimana
lahir dalam bentuk tasawuf adalah salah satu jalan di mana manusia berusaha
mematikan hawa nafsunya di dalam rangka supaya lahir kembali di dalam Ilahi dan
oleh karenanya mengalami persatuan dengan Yang Benar” (Nasr, 2000)
3. Puasa sebagai ibadah.
Bagi orang Jawa yang menjalankan syariat Islam. puasa seperti ini dijalankan
dalam hukum-hukum fiqihnya. Islam yang disadari adalah Islam dalam bentuk
syariat, dan kebanyakan hidup di daerah santri dan kauman.
KEJAWEN
Mari kita mengutip satu tembang Jawa
Tak uwisi gunem iki saya akhiri pembicaraan ini
Niyatku mung aweh wikan saya hanya ingin memberi tahu
Kabatinan akeh lire kabatinan banyak macamnya
Lan gawat ka liwat-liwat dan artinya sangat gawat
Mulo dipun prayitno maka itu berhati-hatilah
Ojo keliru pamilihmu Jangan kamu salah pilih
Lamun mardi kebatinan kalau belajar kebatinan
Tembang ini menggambarkan nasihat seorang tua (pinisepuh) kepada mereka yang
ingin mempelajari kabatinan cara kejawen. Kiranya perlu dipahami bahwa tujuan
hakiki dari kejawen adalah berusaha mendapatkan ilmu sejati untuk mencapai
hidup sejati, dan berada dalam keadaan harmonis hubungan antara kawula
(manusia)dan Gusti(Pencipta) ( jumbuhing kawula Gusti )/pendekatan kepada Yang
Maha Kuasa secara total.
Keadaan spiritual ini bisa dicapai oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan,
yang mempunyai moral yang baik, bersih dan jujur. beberapa laku harus
dipraktekkan dengan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap.Pencari dan
penghayat ilmu sejati diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi
semua orang serta melalui kebersihan hati dan tindakannya. Cipta, rasa, karsa
dan karya harus baik, benar, suci dan ditujukan untuk mamayu hayuning bawono.
Ati suci jumbuhing Kawulo Gusti – hati suci itu adalah hubungan yang serasi
antara Kawulo dan Gusti, kejawen merupakan aset dari orang Jawa tradisional
yang berusaha memahami dan mencari makna dan hakekat hidup yang mengandung
nilai-nilai.
Dalam budaya jawa dikenal adanya simbolisme, yaitu suatu faham yang menggunakan
lambang atau simbol untuk membimbing pemikiran manusia kearah pemahaman
terhadap suatu hal secara lebih dalam.Manusia mempergunakan simbol sebagai
media penghantar komunikasi antar sesama dan segala sesuatu yang dilakukan
manusia merupakan perlambang dari tindakan atau bahkan karakter dari manusia
itu selanjutnya. Ilmu pengetahuan adalah simbol-simbol dari Tuhan, yang
diturunkan kepada manusia, dan oleh manusia simbol-simbol itu ditelaah
dibuktikan dan kemudian diubah menjadi simbol-simbol yang lebih mudah difahami
agar bisa diterima oleh manusia lain yang memiliki daya tangkap yang
berberda-beda.
Biasanya sebutan orang Jawa adalah orang yang hidup di wilayah sebelah timur sungai
Citanduy dan Cilosari. Bukan berarti wilayah di sebelah barat-nya bukan wilayah
pulau Jawa. Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang menjunjung tinggi rasa
kekeluargaan dan suka bergotong royong dengan semboyannya “saiyeg saekoproyo “
yang berarti sekata satu tujuan.
Kisah suku Jawa diawali dengan kedatangan seorang satriya pinandita yang
bernama Aji Saka, sampai kemudian satriya itu menulis sebuah sajak yang
kemudian sajak tersebut diakui menjadi huruf jawa dan digunakan sebagai tanda
dimulainya penanggalan tarikh Caka.
Kejawen adalah faham orang jawa atau aliran kepercayaan yang muncul dari
masuknya berbagai macam agama ke jawa. Kejawen mengakui adanya Tuhan Gusti
Allah tetapi juga mengakui mistik yang berkebang dari ajaran tasawuf
agama-agama yang ada.
Tindakan tersebut dibagi tiga bagian yaitu tindakan simbolis dalam religi,
tindakan simbolis dalam tradisi dan tindakan simbolis dalam seni. Tindakan
simbolis dalam religi, adalah contoh kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa
Tuhan adalah zat yang tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, karenanya
harus di simbolkan agar dapat di akui keberadaannya misalnya dengan menyebut
Tuhan dengan Gusti Ingkang Murbheng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Kuaos, dan
sebagainya. Tindakan simbolis dalam tradisi dimisalkan dengan adanya tradisi
upacara kematian yaitu medoakan orang yang meninggal pada tiga hari, tujuh
hari, empatpuluh hari, seratus hari, satu tahun, dua tahun ,tiga tahun, dan
seribu harinya setelah seseorang meninggal ( tahlhilan ). Dan tindakan simbolis
dalam seni dicontohkan dengan berbagai macam warna yang terlukis pada wajah
wayang kulit; warna ini menggambarkan karakter dari masing-masing tokoh dalam
wayang.
Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang
mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang
mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut
dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan.
Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena
dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari
hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko
guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air,
api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara
fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi
konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi
syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana
nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme
tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung
pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti
berputarnya sangkakala.
Mangkunegara IV (Sembah dan Budiluhur)
Mangkunegara IV memiliki empat ajaran utama yang meliputi sembah raga, sembah
cipta (kalbu), sembah jiwa, dan sembah rasa.
1. Sembah Raga
Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah atau
amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang
biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudhu). Sembah yang demikian biasa
dikerjakan lima kali sehari semalam dengan mengindahkan pedoman secara tepat,
tekun dan terus menerus, seperti bait berikut:
Sembah raga puniku / pakartining wong amagang laku / sesucine asarana saking
warih / kang wus lumrah limang wektu / wantu wataking wawaton 34
Sembah raga, sebagai bagian pertama dari empat sembah yang merupakan perjalanan
hidup yang panjang ditamsilkan sebagai orang yang magang laku (calon pelaku
atau penempuh perjalanan hidup kerohanian), orang menjalani tahap awal kehidupan
bertapa (sembah raga puniku, pakartining wong amagang laku). Sembah ini
didahului dengan bersuci yang menggunakan air (sesucine asarana saking warih).
Yang berlaku umum sembah raga ditunaikan sehari semalam lima kali. Atau dengan
kata lain bahwa untuk menunaikan sembah ini telah ditetapkan waktu-waktunya
lima kali dalam sehari semalam (kang wus lumrah limang wektu). Sembah lima
waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan (setiap muslim) dengan
memenuhi segala syarat dan rukunnya (wantu wataking wawaton). Sembah raga yang
demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti (wantu) seumur hidup.
Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib
dipedomani (wataking wawaton). Watak suatu waton (pedoman) harus dipedomani. Tanpa
mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah.
Sembah raga tersebut, meskipun lebih menekankan gerak laku badaniah, namun
bukan berarti mengabaikan aspek rohaniah, sebab orang yang magang laku selain
ia menghadirkan seperangkat fisiknya, ia juga menghadirkan seperangkat aspek
spiritualnya sehingga ia meningkat ke tahap kerohanian yang lebih tinggi.
2. Sembah Cipta (Kalbu)
Sembah ini kadang-kadang disebut sembah cipta dan kadang-kadang disebut sembah
kalbu, seperti terungkap pada Pupuh Gambuh bait 1 terdahulu dan Pupuh Gambuh
bait 11 berikut:
Samengkon sembah kalbu/ yen lumintu uga dadi laku/ laku agung kang kagungan
narapati/ patitis teteking kawruh/ meruhi marang kang momong. 35
Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang
tersimpan di dalam hati 36 , kalbu berarti hati 37 , maka sembah cipta di sini
mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau
angan-angan.
Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan
najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat
mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu,
amung nyunyuda hardaning kalbu).
Thaharah (bersuci) itu, demikian kata Al-Ghazali, ada empat tingkat. Pertama,
membersihkan hadats dan najis yang bersifat lahiriah. Kedua, membersihkan
anggota badan dari berbagai pelanggaran dan dosa. Ketiga, membersihkan hati
dari akhlak yang tercela dan budi pekerti yang hina. Keempat, membersihkan hati
nurani dari apa yang selain Allah. Dan yang keempat inilah taharah pada Nabi
dan Shiddiqin… 38
Jika thaharah yang pertama dan kedua menurut Al-Ghazali masih menekankan bentuk
lahiriah berupa hadats dan najis yang melekat di badan yang berupa pelanggaran
dan dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh. Cara membersihkannya dibasuh dengan
air. Sedangkan kotoran yang kedua dibersihkan dan dibasuh tanpa air yaitu
dengan menahan dan menjauhkan diri dari pelanggaran dan dosa. Thaharah yang
ketiga dan keempat juga tanpa menggunakan air. Tetapi dengan membersihkan hati
dari budi jahat dan mengosongkan hati dari apa saja yang selain Allah.
3. Sembah Jiwa
Sembah jiwa adalah sembah kepada Hyang Sukma (Allah) 39 dengan mengutamakan
peran jiwa. Jika sembah cipta (kalbu) mengutamakan peran kalbu, maka sembah
jiwa lebih halus dan mendalam dengan menggunakan jiwa atau al-ruh. Sembah ini
hendaknya diresapi secara menyeluruh tanpa henti setiap hari dan dilaksanakan
dengan tekun secara terus-menerus, seperti terlihat pada bait berikut:
Samengko kang tinutur/ Sembah katri kang sayekti katur/ Mring Hyang Sukma
suksmanen saari-ari/ Arahen dipun kecakup/ Sembahing jiwa sutengong 40
Dalam rangkaian ajaran sembah Mangkunegara IV yang telah disebut terdahulu,
sembah jiwa ini menempati kedudukan yang sangat penting. Ia disebut pepuntoning
laku (pokok tujuan atau akhir perjalanan suluk). Inilah akhir perjalann hidup
batiniah. Cara bersucinya tidak seperti pada sembah raga dengn air wudlu atau
mandi, tidak pula seperti pada sembah kalbu dengan menundukkan hawa nafsu,
tetapi dengan awas emut (selalu waspada dan ingat/dzikir kepada keadaan alam
baka/langgeng), alam Ilahi. Betapa penting dan mendalamnya sembah jiwa ini,
tampak dengan jelas pada bait berikut:
Sayekti luwih perlu/ ingaranan pepuntoning laku/ Kalakuan kang tumrap
bangsaning batin/ Sucine lan awas emut/ Mring alaming lama amota.41
Berbeda dengan sembah raga dan sembah kalbu, ditinjau dari segi perjalanan
suluk, sembah ini adalah tingkat permulaan (wong amagang laku) dan sembah yang
kedua adalah tingkat lanjutan. Ditinjau dari segi tata cara pelaksanaannya,
sembah yang pertama menekankan kesucian jasmaniah dengan menggunakan air dan
sembah yang kedua menekankan kesucian kalbu dari pengaruh jahat hawa nafsu lalu
membuangnya dan menukarnya dengan sifat utama. Sedangkan sembah ketiga
menekankan pengisian seluruh aspek jiwa dengan dzikir kepada Allah seraya
mengosongkannya dari apa saja yang selain Allah.
Pelaksanaan sembah jiwa ialah dengan berniat teguh di dalam hati untuk
mengemaskan segenap aspek jiwa, lalu diikatnya kuat-kuat untuk diarahkan kepada
tujuan yang hendak dicapai tanpa melepaskan apa yang telah dipegang pada saat
itu. Dengan demikian triloka (alam semesta) tergulung menjadi satu. Begitu pula
jagad besar dan jagad kecil digulungkan disatupadukan. Di situlah terlihat alam
yang bersinar gemerlapan. Maka untuk menghadapi keadaan yang menggumkan itu,
hendaklah perasaan hati dipertebal dan diperteguh jangan terpengaruh apa yang
terjadi. Hal yang demikian itu dijelaskan Mangkunegara IV pada bait berikut:
"Ruktine ngangkah ngukud / ngiket ngruket triloka kakukud / jagad agung
ginulung lan jagad alit / den kandel kumandel kulup / mring kelaping alam
kono."
4. Sembah Rasa
Sembah rasa ini berlainan dengan sembah-sembah yang sebelumnya. Ia didasarkan
kepada rasa cemas. Sembah yang keempat ini ialah sembah yang dihayati dengan
merasakan intisari kehidupan makhluk semesta alam, demikian menurut
Mangkunegara IV.
Jika sembah kalbu mengandung arti menyembah Tuhan dengan alat batin kalbu atau
hati seperti disebutkan sebelumnya, sembah jiwa berarti menyembah Tuhan dengan
alat batin jiwa atau ruh, maka sembah rasa berarti menyembah Tuhan dengan
menggunakan alat batin inti ruh. Alat batin yang belakangan ini adalah alat
batin yang paling dalam dan paling halus yang menurut Mangkunegara IV disebut
telenging kalbu (lubuk hati yang paling dalam) atau disebut wosing jiwangga
(inti ruh yang paling halus).
Dengan demikian menurut Mangkunegara IV, dalam diri manusia terdapat tiga buah
alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau
wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.
Pelaksanaan sembah rasa itu tidak lagi memerlukan petunjuk dan bimbingan guru
seperti ketiga sembah sebelumnya, tetapi harus dilakukan salik sendiri dengan
kekuatan batinnya, seperti diungkapkan Mangkunegara IV dalam bait berikut:
Semongko ingsun tutur/ gantya sembah lingkang kaping catur/ sembah rasa karasa
wosing dumadi/ dadi wus tanpa tuduh/ mung kalawan kasing batos.42
Apabila sembah jiwa dipandang sebagai sembah pada proses pencapaian tujuan
akhir perjalanan suluk (pepuntoning laku), maka sembah rasa adalah sembah yang
dilakukan bukan dalam perjalanan suluk itu, melainkan sembah yang dilakukan di
tempat tujuan akhir suluk. Dengan kata lain, seorang salik telah tiba di tempat
yang dituju. Dan di sinilah akhir perjalanan suluknya. Untuk sampai di sini,
seorang salik masih tetap dibimbing gurunya seperti telah disebut di muka.
Setelah ia diantarkan sampai selamat oleh gurunya untuk memasuki pintu gerbang,
tempat sembah yang keempat, maka selanjutnya ia harus mandiri melakukan sembah
rasa.
Pada tingkatan ini, seorang salik dapat melaksanakan sendiri sembah rasa sesuai
petunjuk-petunjuk gurunya. Pada tingkat ini ia dipandang telah memiliki
kematangan rohani. Oleh karena itu, ia dipandang telah cukup ahli dalam
melakukan sembah dengan mempergunakan aspek-aspek batiniahnya sendiri.
Di sini, dituntut kemandirian, keberanian dan keteguhan hati seorang salik,
tanpa menyandarkan kepada orang lain. Kejernihan batinlah yang menjadi modal
utama. Hal ini sesuai dengan wejangan Amongraga kepada Tambangraras dalam
Centini bait 156. Sembah tersebut, demikian dinyatakan Amongraga, sungguh
sangat mendalam, tidak dapat diselami dengan kata-kata, tidak dapat pula
dimintakan bimbingan guru. Oleh karena itu, seorang salik harus merampungkannya
sendiri dengan segala ketenangan, kejernihan batin dan kecintaan yang mendalam
untuk melebur diri di muara samudera luas tanpa tepi dan berjalan menuju
kesempurnaan. Kesemuanya itu tergantung pada diri sendiri, seperti terlihat
pada bait berikut:
Iku luwih banget gawat neki/ ing rarasantang keneng rinasa/ tan kena
ginurokake/ yeku yayi dan rampung/ eneng onengira kang ening/ sungapan ing
lautan/ tanpa tepinipun/ pelayaran ing kesidan/ aneng sira dewe tan Iyan iku
yayi eneng ening wardaya.43
Tulisan ini didownload dari:
http://koir.multiply.com/journal/item/11